Jenis Jenis

Dalam Wikipedia dituliskan bahwa Tembang Macapat biasanya dibagi kedalam beberapa Pupuh, sedangkan pupuh sendiri masih dibagi menjadi beberapa Pada (Bait).
Pupuh yang merupakan bentuk puisi tradisional Jawa dengan jumlah suku kata dan rima tertentu di setiap barisnya, dalam hal ini menggunakan metrum yang sama. Metrum ini biasanya tergantung kepada watak isi teks yang diceritakan.
Jumlah bait pada setiap pupuh biasanya berbeda-beda karena bergantung pada teks yang digunakan. Adapun setiap bait atau Pada masih dibagi / dibangun oleh Gatra (Baris Kalimat).
Selanjutnya Gatra sendiri memiliki beberapa suku kata atau Wanda dengan jumlah yang selalu tetap dengan diakhiri dengan vokal yang sama.
Istilah Guru Wilangan dalam hal ini merupakan sebuah aturan mengenai jumlah suku kata yang dipakai, sementara aturan pemakaian vokal akhir setiap larik atau gatra diberi nama Guru Lagu.
Tembang Macapat memiliki metrum baku berjumlah lima belas yang kemudian dipisahkan atau dikategorikan menjadi tembang cilik yang mewakili sembilan metrum, tembang tengahan mewakili enam metrum dan tembang gedhe dengan hanya satu metrum.
Tembang Macapat disajikan dalam beberapa jenis yang mana masing-masing tembang tersebut dibedakan dengan aturan-aturan yang membentuknya yakni Guru Lagu dan Guru Wilangan. Secara umum ada 11 jenis tembang yang paling dikenal sebagai berikut :
  • Pangkur
Dikatakan bahwa istilah Pangkur berasal dari nama punggawa dalam kependetaan yang biasa tercantum pada piagam – piagam bahasa jawa kuno.
Pangkur diartikan sebagai Buntut atau Ekor (Serat Purwaukara). Identik dengan sasmita atau isyarat tut pungkur berarti mengekor dan tut wuntat berarti mengikuti.
  • Maskumambang
Istilah Maskumambang dihasilkan dari gabungan dua kata yakni Mas dan Kumambang. Kata Mas berasal dari Premas yang berarti punggawa dalam upacara Shaministis.
Sedangkan Kumambang bisa diartikan dengan terapung yang juga bisa berarti kembang. Selanjutnya Maskumambang membawa pengertian bahwa punggawa yang melaksanakan upacara Shamanistis.
Mengucap mantra atau lafal dengan menembang disertai sajian bunga. Dalam Serat Purwaukara, Maskumambang diberi arti Ulam Toya yang berari ikan air tawar, sehingga kadang-kadang di isyaratkan dengan lukisan atau ikan berenang.
  • Sinom
Sinom bisa dikaitkan dengan istilah Sinoman yang memiliki arti perkumpulan pemuda untuk membantu orang punya hajat. Pendapat lain menyatakan bahwa Sinom ada kaitannya dengan upacara-upacara bagi anak-anak muda zaman dahulu.
Dalam Serat Purwaukara, Sinom diberi arti sekaring rambut yang berarti anak rambut. Selain itu, Sinom juga diartikan daun muda sehingga kadang-kadang diberi isyarat dengan lukisan daun muda.
  • Asmaradana
Asmaradana merupakan dua gabungan kata yakni Asmara dan Dhana. Asmara sendiri bisa diartikan sebagai dewa percintaan, sedangkan Dhana mewakili api.
Penamaan tembang Asmaradana sering dikaitkan dengan peristiwa hangusnya Dewa Asmara oleh sorot mata ketiga Dewa Siwa seperti disebutkan dalam kakawin Smaradhana karya Mpu Darmaja. Dalam Serat Purwaukara, Smarandana diberi arti remen ing paweweh, berarti suka memberi.
  • Dhangdhanggula
Istilah Dhangdhanggula diambil dari nama Raja Kediri yang terkenal setelah Prabu Jayabaya yakni Prabu Dhangdhanggendhis. Dhandhanggula diberi arti ngajeng-ajeng kasaean, bermakna menanti-nanti kebaikan (Serat Purwaukara).
  • Durma
Durma (Jawa Klasik) bisa diartikan sebagai Harimau. Seperti namanya, Macapat Durma identik dengan watak atau digunakan dalam suasana seram.
  • Mijil
Mijil memiliki arti keluar. Bisa juga dihubungkan dengan Wijil yang bersinonim dengan lawang atau pintu. Kata Lawang juga berarti nama sejenis tumbuh-tumbuhan yang bunganya berbau wangi. Bunga tumbuh-tumbuhan itu dalam bahasa latin disebut heritiera littoralis.
  • Kinanthi
Kinanthi berarti bergandengan, teman, nama zat atau benda, nama bunga. Sesuai arti itu, tembang Kinanthi berwatak atau biasa digunakan dalam suasana mesra dan senang.
  • Gambuh
Gambuh berarti ronggeng, tahu, terbiasa, nama tetumbuhan. Berkenaan dengan hal itu, tembang Gambuh berwatak atau biasa digunakan dalam suasana tidak ragu-ragu.
  • Pucung
Pucung merupakan nama biji kepayang, yang dalam bahasa latin disebut Pengium edule. Dalam Serat Purwaukara, Pucung berarti kudhuping gegodhongan ( kuncup dedaunan ) yang biasanya tampak segar.
Ucapan cung dalam Pucung cenderung mengacu pada hal-hal yang bersifat lucu, yang menimbulkan kesegaran, misalnya kucung dan kacung. Sehingga tembang Pucung berwatak atau biasa digunakan dalam suasana santai.
  • Megatruh
Megatruh berasal dari awalan ampega dan ruh. Pegat berarti putus, tamat, pisah, cerai. Dan ruh berarti roh. Dalam Serat Purwaukara, Megatruh diberi arti mbucal kan sarwa ala ( membuang yang serba jelek ).
Pegat ada hubungannya dengan peget yang berarti istana, tempat tinggal. Pameget atau pamegat yang berarti jabatan. Samgat atau samget berarti jabatan ahli, guru agama. Dengan demikian, Megatruh berarti petugas yang ahli dalam kerohanian yang selalu menghindari perbuatan jahat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

11 Tembang Macapat (Pengertian, Sejarah, Watak)