Pengetahuan

Struktur Aturan Tembang Macapat

Sebuah karya sastra macapat biasanya dibagi menjadi beberapa pupuh, sementara setiap pupuh dibagi menjadi beberapa pada. Setiap pupuh menggunakan metrum yang sama. Metrum ini biasanya tergantung kepada watak isi teks yang diceritakan.
Jumlah pada per pupuh berbeda-beda, tergantung terhadap jumlah teks yang digunakan. Sementara setiap pada dibagi lagi menjadi larik atau gatra. Sementara setiap larik atau gatra ini dibagi lagi menjadi suku kata atau wanda. Setiap gatra jadi memiliki jumlah suku kata yang tetap dan berakhir dengan sebuah vokal yang sama pula.
Aturan mengenai penggunaan jumlah suku kata ini diberi nama guru wilangan. Sementara aturan pemakaian vokal akhir setiap larik atau gatra diberi nama guru lagu. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini adalah tabel tembang macapat berdasarkan metrumnya.

tabel-tembang-macapat
tembang macapat berdasarkan metrum
Jadi, ringkasnya:
• Guru Gatra merupakan banyaknya jumlah larik (baris) dalam satu bait.
• Guru Lagu merupakan persamaan bunyi sajak di akhir kata dalam setiap larik (baris).
• Guru Wilangan merupakan banyaknya jumlah wanda (suku kata) dalam setiap larik (baris).

FILOSOFI

Dibalik keindahan ritme bahasa ataupun kesyahduan tembang macapat, tersimpan sebuah kedalaman pemikiran dari sang pembuatnya. Sebuah filosofi kehidupan yang sering terkandung dalam kebiasaan dan adat Jawa tertanam juga dalam tembang-tembang Macapat.
Tembang Macapat merupakan harmoni antara keindahan dan khasanah kearifan. Ajaran keluhuran budi dan sebuah gambaran perjalanan hidup manusia sejak lahir hingga sampai dengan meninggalnya.
Berikut ini adalah detail penjelasan Filosofi Tembang Macapat yang terkandung dalam setiap metrumnya :
  • Maskumambang
Merupakan gambaran ketika manusia masih berada di alam ruh , saat-saat sebelum ditanamkan di dalam gua garba (rahim) ibu. Dalam keadaan ini, Allah SWT memberi pertanyaan kepada ruh kita “Bukankah AKU ini Tuhanmu? (Alastu Bi Robbikum)”.
Kemudian pertanyaan tersebut di jawab oleh ruh kita “Qoolu Balaa Sahidna” yang artinya “Benar (Yaa Allah Engkau adalah Tuhan kami dan kami semua menjadi saksinya)”.
Ada juga yang mendeskripsikan bahwa Maskumambang berarti keadaan bayi yang masih berada dalam rahim ibu, dimana belum diketahui jenis kelaminnya
  • Mijil
Mijil bisa dikatakan sebagai sebuah ilustrasi proses kelahiran manusia, dimana telah jelas jenis kelaminnya, Mijil bisa diartikan sudah lahir atau keluar.
  • Kinanthi
Berasal dari istilah “Kanthi” yang berarti dituntun supaya bisa berjalan. Menjadi lambang hidupnya anak kecil atau bayi yang perlu tuntunan lahir dan batin supaya bisa berjalan di dalam samudra alam dunia. Gambaran sebuah proses pembentukan jati diri dan meniti jalan menuju cita-cita.
  • Sinom
Berasal dari tembung “Sinoman” atau bisa di maknai sebagai  para pemuda. Dimana manusia yang masih muda itu memiliki arti penting dalam babak kehidupannya.
Karena itu perlu banyak belajar untuk mempersiapkan diri hidup berumah tangga. Sebuah lukisan dari masa muda, masa yang indah, penuh dengan harapan dan angan-angan.
  • Asmaradana
Mewakili sebuah proses dimana manusia telah memiliki rasa cinta pada lawan jenis. Telah menjadi kehendak sang Khalik, dimana ini merupakan awal untuk membangun kehidupan rumah tangga.
Masa-masa dirundung asmara, dimabuk cinta, ditenggelamkan dalam lautan kasih. Asmara artinya cinta, dan Cinta adalah ketulusan hati.
  • Gambuh
Berasal dari kata “Jumbuh” yang bisa dimaknai telah didapati kecocokan antara pria dan wanita yang didasari cinta (Asmaradana). Sebuah komitmen untuk  membangun kehidupan rumah tangga. Saling melengkapi dan bersinergi secara harmonis.
  • Dhandanggula
Ilustrasi hidup seseorang ketika keinginannya terkabul yang intinya semua itu menjadikan dia bahagia (Punya Istri, Punya Anak, Rumah serta cukup sandang dan pangan).
Sebuah tahap kemapanan sosial, dimana dalam tahap ini dibutuhkan kedewasaan berfikir, karena kunci hidup bahagia adalah rasa syukur.
  • Durma
Berasal dari kata “darma” yang bisa diartikan dengan berbakti, manusia jika sudah hidup kecukupan harus melihat kanan kirinya. Melihat keadaan saudaranya dan tetangga yang masih dalam kesengsaraan, lalu member pertolongan pada sesamanya.
  • Pangkur
Berasal dari kata “Mungkur”. Dimaknai dengan manusia yang musti menghindari sifat angkara murka, selalu berfikir dan bergerak dengan niat berbuat baik dan bermanfaat bagi sesama.
  • Megatruh
Bermula dari kata “Megat Ruh” atau telah terpisahnya Ruh dari Raga. Kehendak sang Khalik yang tidak bisa dielakkan, setiap manusia akan menghadapi kematian.
  • Pocung
Gambaran manusia yang telah mati, sesuai dengan syariat Islam, dimana jasad manusia dibungkus kain mori putih, diusung dipanggul laksana raja-raja. Itulah prosesi penguburan jasad kita menuju liang lahat, rumah terakhir kita didunia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

11 Tembang Macapat (Pengertian, Sejarah, Watak)